Masjid
“sebuah monument akan mati ketika ia ditinggalkan para penafsirnya”
Masjid, jelas bukan hanya sekedar monument. Ia berdiri sebagai pusat. Kala itu, ketika untuk pertama kalinya tiba di Madinah, langkah pertama yang dilakukan Muhammad saw adalah mendirikan masjid. Ia meletakkan sebuah control, sebuah pusat dari komunitas yang telah sekian tahun hidup liar.
Di masjid orang bersembahyang. Di masjid juga orang berlatih perang, berdiskusi, merumuskan konstitusi, menerima utusan negri. Dan ia kiblat bagi seluruh dinamisme social.
Dengan tegas, Muhammad saw meletakkan masjid bukan hanya sebagai tempat pasrah ketika putus asa, atau tungku kremasi bagi orang yang terlalu banyak dosa. Menurut bahasa awalnya, masjid adalah tempat bersujud. Dimana seorang meleburkan dirinya dalam eksistensi tanpa batas. Sujud, sebagai orgasmus dari pendakian yang lepas dari tempo.
Disini, masjid melesat pada taraf kesucian tunggal. Ia mengejawantah dalam arti yang sebenarnya tentang Tuhan dan seluruh eksistensi yang menjembataninya dengan manusia yang penuh batas. Maka bahasa Indonesia cenderung menerjemahkannya dengan rumah tuhan, dengan kadar dominasi lebih tinggi dari rumah ibadah lainnya.
Menara yang menggaet langit, ornamen bulan sabit, daun pintu dengan lengkungan pucuk atas. Semuanya bertetak pada “Yang di Atas”. Sebuah orkestra tentang Yang paling segala.
Diatas semua itu, masjid selalu ada di bumi. Ia bukan hanya symbol tentang Yang di Atas, tapi juga tentang Yang selalu dekat. Ia disebut sebagai rumah Tuhan, tapi ia dibangun dengan tetes keringat dan, kadangkala, darah manusia. Maka ia juga rumah manusia.
Gambar di depan saya ini sudah mulai buram. Sebuah foto tentang masjid dengan kubah hijau di atasnya. Pelataran yang runtuh sebagian. Seperangkat dinding yang keropos disana-sini. Di bagian bawah tertulis dengan font indah, al-Aqsha.
Bukti sejarah mencatat masjid bukan sebuah orname-ornemen sejarah kota melainkan bukti dan saksi sejarah kemajuan kota.
Wednesday, November 19, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)